RSS

MOS atau Perploncoan ??

MOS 1

MOS dengan kostum aneh

Setiap pembukaan tahun ajaran baru untuk setiap satuan pendidikan akan melakukan penerimaan siswa baru. Untuk bisa diterima di sekolah yang menjadi tujuan tempat belajar maka calon siswa harus melewati beberapa proses. Diantaranya harus mendaftar dan melengkapi administrasi sekolah, di seleksi dan setelah diterima harus mengikuti lagi yang namanya masa orentasi siswa. Pertanyaannya sekarang,sebenarnya MOS itu dilakukan untuk apa?.

Apa itu Masa orentasi siswa?. Masa Orientasi Siswa atau disingkat MOS merupakan sebuah kegiatan yang umum dilaksanakan di Sekolah guna menyambut kedatangan siswa baru.Masa orientasi siswa biasanya mulai dari tingkat SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Namun akhir ini beberapa tingkat sekolah Dasarpun melakukan MOS. MOS sebagai sarana untuk mengenalkan almamater pada siswa barunya. MOS merupakan kegiatan yang umum dilaksanakan di sekolah guna menyambut kedatangan siswa baru yang bertujuan untuk memperkenalkan lingkungan sekolah beserta seluruh komponen sekolah,norma,budaya, dan tata tertib.MOS juga bermanfaat membangun ketahanan mental, meningkatkan disiplin, mempererat tali persaudaraan serta mengarahkan anak untuk memilih ekstrakulikuler yang sesuai dengan bakat dan minat. Sesuai aturanya MOS dilaksanakan pada hari – hari pertama masuk sekolah selama 3 (tiga) hari dan dilakukan selama jam belajar.

MOS atau  Perploncoan

Pada saat ini tradisi MOS sudah banyak di selewengkan oleh berbagai satuan pendidikan. MOS yang seharusnya sebagai ajang memperkenalkan situasi sekolah kepada peseta didik bar berubah menjadi arena penyiksaan dan balas dendam antara senior dan junior.Budaya MOS yang baik berubah sebagai arena perpeloncoan bagi siswa baru.

Kenapa budaya mempelonco seolah wajib dilakukan baik di sekolah kampung maupun di sekolah favorit di perkotaan? Kemungkinan pertama adalah hal ini sekadar tradisi saja seperti halnya mudik saat lebaran, kalau tidak mudik tidak afdol, maka tahun ajaran baru tanpa ploco seolah tidak sahih. Kemungkinan kedua plonco memang sengaja diadakan dengan maksud membuat siswa baru tunduk dengan harapan kelak tidak membuat masalah. Guru dan dosen pun tampaknya memberi dukungan karena dengan adanya plonco mereka bisa mendapatkan ekstra hari-hari santai selama seminggu lebih sementara para “kakak” “membina” adik-adik mereka. Pada masa orde baru, jaman saya dulu, plonco bahkan direstui oleh negara dalam kemasan yang agung-mulia berupa penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila).

Bentuk bentuk plonco bermacam-macam, umunya berupa baris-berbaris, memakai pakaian aneh, dan tugas-tugas tidak masuk akal seperti membuat papan nama dengan Rugos (huruf gosok) hingga membawa peyek teri yang ikannya semua menoleh ke arah kanan. Pada level yang lebih parah kekerasan fisik sering terjadi mulai dari betuk hukuman fisik seperti lari, push-up. Tekanan psikis sudah pasti diberikan karena memang ini tujuan utama dari plonco. Tak jarang tekanan psikis ini memberikan trauma mendalam berkepanjangan.

Plonco pun terkadang berujung maut seperti kisah seorang siswa baru di Amerika yang meninggal akibat perdarahan di duburnya karena saat plonco dimasuki paksa dengan tongkat bisbol. Di dalam negeri tidak hanya sekali praja IPDN (STPDN) meninggal dunia dan reaksi pemerintah bukannya menyelidiki namun seolah berusaha menutupi borok tersebut.

Bagaimana MOS yang sebenarnya ?

MOS 2

Begini sebenarnya koatum MOS, hanya menggunakan name tag

Dalam kegiatan MOS pasti ada tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan MOS itu adalah:

  1. Memperkenalkan siswa pada lingkungan fisik sekolah yang baru mereka masuki
  2. Memperkenalkan siswa pada seluruh komponen sekolah beserta aturan, norma, budaya, dan tata tertib yang berlaku di dalamnya.
  3. Memperkenalkan siswa pada keorganisasian
  4. Memperkenalkan siswa untuk dapat menyanyikan lagu hymne dan mars sekolah
  5. Memperkenalkan siswa pada seluruh kegiatan yang ada di sekolah
  6. Mengarahkan siswa dalam memilih kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan bakat mereka
  7. Menanamkan sikap mental, spiritual, budi pekerti yang baik, tanggung jawab, toleransi, dan berbagai nilai positif lain pada diri siswa sebagai implementasi penanaman konsep iman, ilmu, dan amal
  8. Menanamkan berbagai wawasan dasar pada siswa sebelum memasuki kegiatan pembelajaran secara formal di kelas.

Jadi, apakah MOS tetap perlu diadakan setiap tahun? Perlu, jika diadakan dengan kegiatan-kegiatan yang positif, MOS harus jauh dari kegiatan yang bersifat layaknya jaman penjajahan perang dalam bentuk penindasan seperti apapun bentuknya itu (penugasan, disuruh yang aneh-aneh), MOS harus kembali ke TUJUAN yang sebenarnya yaitu menjadi sarana pengenalan siswa baru dengan sekolahnya dan MOS itu harusnya “Menyenangkan” bukan “Menakutkan”.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 Agustus 2014 in Uncategorized

 

Model Rapor Kurikulum 2013

kurikulum 2013

Kegiatan penilaian tidak dapat terpisahkan  dari pembelajaran. Dalam kurikulum 2013, penilaian yang dilakukan adalah penilaian autentik, yaitu penilaian yang dilakukukan oleh guru dalam proses dan hasil belajar. Sekolah pelaksana kurikulum 2013 sudah dapat mencetak laporan hasil belajar peserta didik dengan mengacu pada Keputusan Dirjen Dikmen No. 717/D/Kep/2013.

Berikut format MODEL LCK _RAPOR_ SMA_10102013

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 11 Oktober 2013 in BERITA

 

Tag: , ,

Kurikulum 2013 dan Implementasinya

indexKemendikbud mulai tahun pelajaran 2013/2014 secara resmi melaksanakan Kurikulum 2013 secara bertahap dan terbatas. Bertahap artinya Kurikulum 2013 dilaksanakan untuk kelas-kelas tertentu yaitu kelas I, IV, VII, dan X, sedangkan terbatas hanya dilakukan sekolah-sekolah tertentu sebagai  sasaran. Untuk SMA ada 1,267 sekolah sebagai pelaksana Kurikulum 2013.  Berbagai upaya telah dilakukan  oleh  Kemendikbud untuk mensukseskan pelaksanaan kurikulum 2013, mulai dari penyiapan materi dan bahan pelatihan, penyiapan instruktur nasional, penyiapan dan pelatihan guru  inti dan guru sasaran. Banyak sekali dana yang telah dikucurkan untuk pelaksanaan kurikulum 2013, bagaimana pelaksanaan kurikulum di sekolah ? Ada beberapa rangkuman yang saya dapat dari berbagai sekolah sasaran dalam pelaksanaan Kurikulum 2013. Berikut petikannya;

  1. Sekolah mengalami kesulitan dalam mengimplementasikan peminatan dan lintas minat. Akibatnya sekolah dalam pelaksanaan peminatan dan lintas minat tidak sesuai dengan permendikbud No. 69 tahun 2013.
  2. Guru mengalami kesulitan memahami KI dan KD karena ada kompetensi yang menyangkut sikap, yakni sikap spritual dan sikap sosial.
  3. Guru mengalami kesulitan dalam  melaksanakan pembelajaran, karena guru masih direpotkan  dengan pencarian materi dan  bahan ajar  karena pemerintah hanya menyiapkan  buku untuk 3 mata pelajaran yaitu mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia dan Sejarah.
  4. Guru masih canggung dan belum terbiasa melaksanakan  pembelajaran dengan pendekatan Scientific dengan model Discovery Learning, Inquiry dan Problem Based Learning. Guru masih nyaman dengan pembelajaran  motode ceramah.
  5. Pada mata pelajaran matematika antara matematika wajib dan matematika peminatan, KI dan KD nya tidak diatur sedemikian rupa sehingga antara matematika wajib dan matematika peminatan sangat tidak dimungkinkan di ampuh oleh 2 orang guru, melainkan harus diampuh oleh seorang guru.    Contoh KDnya adalah sbb;
    Matematika Wajib : 3.1. Memilih dan menerapkan aturan eksponen dan logaritma sesuai dengankarakteristik permasalahanyang akandiselesaikan dan memeriksakebenaran langkah-langkahnya.
    KD matematika peminatan adalah 3.1.Mendeskripsikan dan menganalisisberbagai konsep dan prinsip fungsi eksponensial dan logaritma serta menerapkan dalam menyelesaikan masalah.
  6. Tidak siapnya guru inti dan guru sasaran melakukan pengimbasan di sekolah-sekolah sasaran, sehingga konsep  yang benar tentang Kurikulum 2013 tidak sampai ke guru-guru sasaran yang lain (karena tidak semua guru sasaran dilatih oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kemendikbud)
  7. Penerapan penilaian Auntentik juga “gamang” dilaksanakan oleh guru,  karena selama ini guru hanya berorientasi pada hasil belajar bukan pada proses, sedangkan Kurikulum 2013 berorientasi  pada proses dan hasil.
  8. Ada ketidak sinkronan penggunaan istilah antara Permendikbud No. 66 Tentang Standar Penilaian dan Permendikbud N0. 81 A tentang Impelentasi Kurikulum.  Di Standar Penilaian tercantum ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan semester dan ujian tingkat kompetensi. Sedangkan di Permendikbud N0. 81 A 9LampiranIV)  tidak digunakan istilah ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan semester dan ujian tingkat kompetensi melainkan menggunakan istilah tes formatif dan tes sumatif (????)
  9. Berubahnya sistem penilaian dan penulisan rapor juga menjadi perbincangan hangat serta penilaian yang menggunaka skala 1 -4  masih membingungan guru karena juknis penilaian  belum diterbitkan oleh direktorat terkait.
  10. Sarana sekolah yang belum memadai untuk pelaksanaan Kurikulum 2013, misalnya tidak adanya akses internet (WIFI), jumlah siswa yang relatif besar (> 40 siswa) perrombel dan masih ada  guru-guru yang belum sepenuhnya menguasai TIKBagaimanapun permasahalannya  Kurikulum 2013 harus terus dilaksanakan  dan disukseskan. Ada beberapa saran dan masukan untuk Kemendikbud dan jajarannya;
  1. Direktorat terkait secepatnya menerbitkan juknis penilaian dan juknis pengisian raport agar sekolah dapat mempersiapkan diri menyiapkan software penulisan raport.
  2. Buku-buku untuk semua mata pelajaran segera diselesaikan
  3. Pelatihan guru terus dilanjutkan agar semua guru memiliki pemahaman yang sama tentang Kurikulum 2013
  4. Sarana dan prasarana sekolah segera dilengkapi agar  pelaksanaan pembelajaran benar-benar dapat terlaksana dengan baik.

Mungkin itu dulu masukan selama penulis mengikuti perkembangan dan melaksanakan kurikulum 2013

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 6 Oktober 2013 in Uncategorized

 

Tag: , , , ,

Kompetensi Inti dan Standar Kompetensi Kurikulum 2013

kurikulum__2013Dalam teori kurikulum (Anita Lie, 2012) keberhasilan suatu kurikulum merupakan proses panjang, mulai dari kristalisasi berbagai gagasan dan konsep ideal tentang pendidikan, perumusan desain kurikulum, persiapan pendidik dan tenaga kependidikan, serta sarana dan prasarana, tata kelola pelaksanaan kurikulum –termasuk pembelajaran– dan penilaian pembelajaran dan kurikulum.

Struktur kurikulum dalam hal perumusan desain kurikulum, menjadi amat penting. Karena begitu struktur yang disiapkan tidak mengarah sekaligus menopang pada apa yang ingin dicapai dalam kurikulum, maka bisa dipastikan implementasinya pun akan kedodoran.

KUr 2013Kompetensi dalam kurikulum merupakan inti mata pelajaraN yang harus dikuasai oleh siswa. Akhir Pebruari ini Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaab telah menerbitkan Kompetensi Inti dan Standar kompetensi kurikulum 2013. Pada pengatar dokumen itu dijelaskan bahwa selain  berisi  deskripsi  Kompetensi  Dasar,  dokumen  ini  berisi  pula  Kompetensi  Inti  dan Struktur  Kurikulum.  Kompetensi  Dasar  dikembangkan  dari  Kompetensi  Inti,  sedangkan pengembangan  Kompetensi  Inti  mengacu  pada  Struktur  Kurikulum.  Kompetensi  Inti merupakan kompetensi yang mengikat berbagai Kompetensi Dasar ke dalam aspek sikap, keterampilan,  dan  pengetahuan  yang  harus  dipelajari  peserta  didik  untuk  suatu  jenjang sekolah,  kelas,  dan  mata  pelajaran.  Kompetensi  Inti  harus  dimiliki  peserta  didik  untuk setiap  kelas  melalui  pembelajaran  dengan  pendekatan  pembelajaran  siswa  aktif. Kompetensi Dasar merupakan kompetensi setiap mata pelajaran untuk setiap kelas.

Kalau dibandingkan dengan Kompetensi Dasar pada kurikulum KTSP, Kompetensari Dasar pada Kurikulum 2013 lebih menekankan aspek afektif, sehingga pada beberapa mata pelajaran (misalnya Matematika), terasa Kompetensi Dasar kurang “operasional”.

Untuk mengulas lebih lanjut Kompetensi Inti dan Standar Kompetensi Kurikulum 2013 silahkan download di sini: 03-Kompetensi-Dasar-SMA-rev9Feb

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Februari 2013 in BERITA

 

Tag: , , , , ,

Kunjungan Puteri Sumatera Utara ke SMA Negeri 3 Medan

DSC03465

Eva memberikan motivasi pada siswa SMA Negeri 3 Medan

Puteri Pariwisata 2011, Eva Septriani Sianipar terpilih untuk mewakili Propinsi Sumatera Utara di ajang Puteri Indonesia 2012-2013 yang akan digelar pada Februari 2013 mendatang. Eva terpilih bersama 33 kontestan yang berasal dari 33 propinsi di Indonesia. Eva Septriani Sianipar adalah alumni SMA Negeri 3 Medan tahun 2006.

Di sela-sela kesibukannya sebagai Puteri Pariwisata dan persiapan menuju Puteri Indonesia 2013 bulan Pebruari  2013 mendatang, Eva berkesempatan  berkunjung ke SMA Negeri 3 Medan (Senin, 14 Januari 2013). Dalam kesempatan ramah tamah dengan siswa dan guru SMA Negeri 3 Medan, Eva mengungkapkan kebanggaannya sebagai Alumni SMA Negeri 3 Medan yang telah menempah dirinya sebagai pribadi yang mandiri dan bekerja keras melalui kegiatan ekstra kurikuler yang diikutinya yaitu Paskibra. Eva adalah Purna Paskibra SMA Negeri 3 Medan Angkatan XI. Dalam kesempatan itu juga Eva memohon doa restu dan dukungan dari seluruh warga SMA Negeri 3 Medanagar beliau dapat  mempersembahkan yang terbaik bagi Sumatera Utara khusunya bagi SMA Negeri 3 Medan pada pemilihan Puteri Indonesia 2013 yang disiarkan secara langsung melalui sebuah TV Swasta.

DSC03468

Beramah tamah dengan guru

Biofile
Nama: Eva Septriani Sianipar
Panggilan: Eva
Lahir: Medan, 05 September 1988
Agama: Kriten Protestan
Pendidikan:   SMA Negeri 3 Medan tahun 2006 dan Sarjana Ekonomi USU
Cita-cita: Akuntan
Hobi: Baca, main komputer dan design
Tinggi/berat: 172/55
Ayah: M Sianipar (Alm)
Ibu: Karlina Simangunsong
Facebook: Eva Septriani Sianipar

prestasi
Putri Pariwisata Sumut 2011
Dara Intelegensia Medan 2010
Finalis Kover Face 2010
10 besar kontes Ratu Bunga tingkat Nasional 2010
15 besar Olimpiade Akuntan IAI 2010
Duta Wisata Kota Medan 2010
10 besar finalis Ratu Bunga Tomohon International Flower Festival 2010

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 Januari 2013 in BERITA

 

Tag: , , , , ,

Pemilihan Guru Berprestasi Kota Medan

Peserta Guru Berprestasi

Peserta Guru Berprestasi

Dinas Pendidikan kota Medan  mengadakan pemilhan guru berprestasi tingkat Kota Medan. Pemilihan guru berprestasi tinbgkat Kota Medan merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Medan untuk memilih guru berprestasi yang akan diikutsertakan pada pemilihan guru berprestasi Provinsi Sumatera Utara. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 10 s.d 12 Desember di SMA Negeri 7 Medan. Kegiatan ini dibukak secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan Dr. Rajab Lubis. Dalam sambutannya Dr. Rajab Lubis mengharapkan kegiatan ini dapat memotivasi guru agar senbantiasa meningkatkan kreativitas dan kompetensi sehingga dapat menjadi guru yang profesional. Dalam sambutannya Dr. Rajab Lubis juga mengatakan bahwa  Kota Medan  terlah berupaya meningkatkan mutu pendidikan dengan menjalin kerjasama dengan berbagai fihak untuk kepentingan dan kjemajuan pendidijkan di Kota Medan.

Pemilihan guru berprestasi kali ini diikuti oleh 54 orang peserta dari berbagai jenjang, mulai dari guru TK hingga guru SMA. Adapun yang menjadi penilaian dalam kegiatan ini adalah fortofolio guru selama mengajar berupa aktivitas dan hasil karya guru,  tes kompetensi paedagogik, kompetensi profesional, dan psikotes.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 11 Desember 2012 in BERITA

 

Supervisi dan Evaluasi SMA Negeri 3 Medan

Temu Akhir Supervisi di SMA Negeri 3 Medan

Mulai tanggal 22 Nopember sampai dengan 25 Nopember 2012, SMA Negeri 3 Medan di kunjungi oleh Tim Supervisi Sekolah Model pelaksana SKM, PSB dan PBKL. Selama 3 hari tim supervisi dari Direktorat Pembinaan SMA Jakarta melihat ketercapaian 8 Standar Nasional Pendidikan, dukungan internal dan eksternal serta observasi lingkungan sekolah.

Petugas supervisi di SMA Negeri 3 Medan adalah Bapak Asep Mulyana  dan Bapak Satiri.

Adapun tujuan diadakan supervisi ini adalah;

  1. Mengidentifikasi kondisi kurikulum, proses pembelajaran, pengelolaan pendidikan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana sekolah, pembiayaan pendidikan dan penilaian pendidikan berdasarkan standar nasional pendidikan yang diperkaya dengan keunggulan tertentu yang berorientasi internasional.
  2. Mengetahui proses pembelajaran melalui observasi kelas dan pendapat siswa.
  3. Mengetahui kepemimpinan kepala sekolah dalam mendukung proses pembelajaran.
  4. Mengetahui keterlaksanaan program kerja sekolah dan bantuan sosial tahun 2012.
  5. Merumuskan rekomendasi tindak lanjut pelaksanaan SKM-PBKL-PSB untuk sekolah dan Direktorat Pembinaan SMA.

Metode observasi yang dilakukan adalah; Observasi, pengamatan dan studi dokumen untuk  melihat ketercapaian 8 Standar Nasional Pendidikan.

Petugas supervisi mengharapkan adanya pembenahan terhadap  indikator dan aspek 8 SNP yang belum terlaksana.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 November 2012 in BERITA

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.340 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: